CERPEN #1
GADIS MUSIM PANAS
Sebuah
cinta yang tak biasa.
Antara
manusia dan sinar mentari.
Pagi
hari, masih pukul delapan. Tetapi udara sudah begitu hangat. Tidak. Panas
malah.
Sudah
sebulan ini matahari kena darah tinggi, emosinya meledak-ledak sampai bumi
harus merasakan getahnya.
Di
saat seperti ini biasanya beberapa manusia mulai merindukan hujan.
Beberapa
lagi memaki cuaca.
Beberapa
hanya diam. Diam-diam sudah mengering.
Dan
hanya sebagian kecil yang menikmatinya.
Bagaimana
caranya menikmati udara “panas”?
Aspal
saja bisa digunakan sebagai tungku kremasi.
Logikanya
memang begitu.
Tapi
ada seseorang yang kukenal begitu menikmati udara panas
Namanya
lala.
Kusebut
ia gadis musim panas.
Terakhir
bertemu ia ingin dipanggil sebagai tari. Biar mirip dengan mentari katanya. Itu
adalah nama paling normal yang penah ia ajukan, setelah sebelumnya berulang
kali ingin dipanggil sebagai emen, ra
(dewa matahari), santoso (karena ada awalan san, mengarah ke kata sun atau matahari) dan nama absurd
lainnya.
Lala
memiliki gaya sendiri.
Ia
sering mengenakan kaos oblong tipis, celana pontong sobek di daerah
selangkangan dan sendal jepit yang tapaknya sudah aus terseret-seret.
Rambut
pendeknya bergoyang-goyang lincah di bawah bucket
hat hasil beli di online shop ternama.
Katanya
itu topi nelayan.
Seketika
pamor topi fashion instagram itu jatuh ke level topi kalangan bapak-bapak.
Suatu
hari lala datang ke rumahku, membawa semangka pemberian ibunya.
“ini
dari ibu, dapat sekarung dari kampung..” katanya sambil mengangkat plastik
hitam berisi semangka.
Kupersilahkan
ia masuk.
Rumahku
memiliki taman di samping rumah, tidak tertalu besar.
Hanya
sebagai penghawaan alami dan tempat bersantai.
Hawa
di tempat ini sangat sejuk karena area hijau ini dilengkapi dengan kolam ikan
mas.
Terkadang
lala sering berkunjung hanya untuk duduk atau tiduran di terasnya.
“Hei
ini ayo kita makan bareng” aku mencolek bahu lala dari belakang.
Potongan
semangka berjejer di atas nampan. Air meleleh membentuk kubangan di sudut-sudutnya.
Warnanya merah tanpa biji, sungguh sempurna dinikmati di udara yang panas ini.
“makasih!”,
lala menerkam satu memasukkannya kemulut lalu melanjutkan kegiatannya bermain
air kolam.
“la.
Berhenti main panas gih, kulit lu udah mateng kayak pinggiran bolu”
“pinggiran
bolu itu bagian paling enak tauk”, lala tergelak tertawa geli meludah-ludahkan
biji semangka kemana-mana. Aneh ya.
Padahal tadi semangkanya ga ada biji.
“lagian
aku gak masalah kok jadi item. Asal bisa puas-puasin diri main panas”,
jawabnya.
“bisa
banget ya. Enaknya dimanaa juga?”, tanyaku sembari mengambil potongan semangka
kedua.
“kalau
kamu mikirnya begitu, sampai kapan juga gak bakalan nemu enaknya. Intinya
dinikmatin aja”
Aku
tau ada alasan lain dibalik kecintaan lala pada mentari.
Beberapa
minggu yang lalu aku mengembalikan baju jemuran ibu lala yang tersesat di
pekarangan kami. Angin hari itu memang sedikit kencang. Ada sekitar 3 potong
pakaian dan salah satu diantaranya adalah kaos oblong gambar barong milik lala
yang sudah sobek di ketiak.
Ibu
lala sedang memasak soto, ia menyuruhku menunggu sampai matang, mau di kasih ke
ibuku katanya. Sembari mengaduk kuah soto, ibu lala bercerita kalau waktu masih
kecil lala gampang kena flu.
“lala
sama bapak dulu sering panjat-panjat genting dari pagi sampai jam 9. Kadang
bawa teh lah, rujak lah, aneh-aneh”, kenang ibu lala.
Jadi
katanya virus flu dapat mati apabila terkena sinar matahari. Pak johan, ayah
lala, sering mengajak lala berjembur di genting rumahnya karena tidak punya
halaman belakang. Ritual pagi mereka nampaknya membekas di diri lala hingga
sekarang.
Aku
berjalan menyusuri dinding dapur hingga ruang tengah. Banyak sekali foto-foto
lama berjejer terbingkai apik. Kebanyakan gambar di ambil di tepi pantai dan
tengah laut. Seorang pria berkumis tipis tampak bangga memegang hasil tangkapan
ikannya. Ikan apa aku tidak tau. Tapi bentuknya aneh, moncongnya panjang. Di
beberapa frame ada wajah lala kecil. Ternyata mukanya memang udah nyebelin dari
lahir. Tapi aku suka. Jangan bilang-bilang ke dia.
“Devaaaaaaaaaaaaa!!”,
lala menaikkan volume suaranya.
“kamu
pindah dimensi?”, lala sudah berdiri, menjentik-jentikkan jari di depan
wajahku. Aku bengong.
“enggak,
tadi kepikiran sesuatu. Kenapa tadi? ”, buru-buru kumasukkan semangka ke dalam
mulut. Mengunyahnya dengan cepat dan ditelan seluruhnya.
“mancing
yuuuk, di empang”, lala mengulang dengan pelan dan jelas.
“eh,
tadi kayaknya kita enggak bahas ini deh”, aku kembali ingat.
“emang
enggak, tapi aku mau ngajak kamu mancing. Yuk?”
“empang?
Sekarang?”
Lala
mengangguk 180ยบ, kencang sekali.
“ogah,
panas”, aku emang gak tertarik.
“kenapaa?
Kena panas gak bikin mati kok. Cuman keringatan aja”, lala narik kerah bajuku
“aduduuh
la. Lagian dapat apasih mancing di empang?. Paling juga ikan lele, kodok buluk,
eek pak roim”, kubenarkan kembali kerah bajuku.
“payah
nih. Yaudah deh aku mancing sendiri aja”, lala mengeluarkan nada kecewa. Ujung
kalimatnya terucap sangat pelan.
Lala
berdiri dari duduknya, mengusap celananya dan menggigit sepotong semangka
terakhir.
“aku
siap-siap dulu deh kalau gitu. Pulang dulu dev”, kali ini kalimatnya terdengar
jelas.
Sejujurnya
aku ingin menghabiskan waktu bersama lala.
Tapi
ke empang?
“tunggu,
la”, segera kalimatku menghentikan langkah lala.
“jangan
ke empang. Entar aku ajak kamu ke laut”
Lala
koprol.“beneeer deeev? Kamu baik banget”
“tapi
aku servis motorku dulu, minyak remnya abis. Entar kita nyampenya kecepetan”
“hahahaha,
makasih devaaa”, matanya berbinar-binar.
“pastiin
kaos yang kamu pake entar ga ada yang bolong ya”
“siap
kapten!”
Hari
senin datang juga. Iya. kita berdua, aku dan lala memilih hari senin sebagai
hari kami pergi liburan ke laut. Di saat semua orang sibuk mengutuk hari, kami
melarikan diri dalam kesenangan. Sebetulnya hari ini aku ada kelas sore, tapi
sekali-sekali bolos kuliah itu menyehatkan jiwa, menguatkan raga.
Aku
gak punya peralatan mancing. Urusan itu aku serahkan pada lala, katanya dia
punya set pancing lengkap punya ayahnya dulu. Semalam lala sibuk jongkok di
empang, dia bawa-bawa sekop. Mau cari cacing. Dia dapat cacing segede jempol
dan dibawa kerumahku.
Aku
histeris.
Ibuku
histeris.
Ibu
lala histeris.
Jarak
pantai ke rumah hanya sekitar 2 jam. Sekarang pukul 10:00 pagi, kami sudah
sampai di pantai. Sebenarnya waktu yang baik untuk memancing adalah malam atau
pagi hari. Namun tujuan kami adalah bersenang-senang, bisa dapat ikan itu
adalah bonus.
“dev,
disana sewa perahu”, lala menunjuk ke arah pondok bertuliskan “sewa perahu”
“yuk”,
kami meninting barang, bergegas ke pondok.
“bang,
bisa sewa perahu buat mancing?”
“bisa
dik”, pria paruh baya itu menyapa dengan ramah, kulitnya coklat. Coklat di
varnish.
“tapi
sekarang laut lagi ga bagus, liat mau hujan”, pria itu menunjuk langit di
tengah laut. gelap, berawan tebal.
“Main-main
di tepi aja dik, minum air kelapa di pondok saya. Ke tengah bahaya”, bapak itu menggulung
tali kapal.
Minimnya
pengalaman memancing dan ketidaktahuan akan cuaca membuat kedatangan kami ke
sini menjadi sia-sia. Aku sih enggak masalah. Tapi lala?
Aku
lihat wajah lala, seraya memberikan isyarat.
“gak
apa-apa dev, bahaya lagian. Kita makan seafood sama minum air kelapa aja sampai
kembung. Yuk”, lala menangkap isyaratku. Aku perhatikan lagi wajahnya. Mencoba
menangkap raut kecewa. Namun tak ada.
“padahal
aku mau tangkap ikan hiu”, lala tiba-tiba berbicara. Dari tadi dia sibuk minum
air kelapa, sekarang masuk batok kedua. “dia beruntung”, katanya lagi.
“tapi
beneran kamu gak kenapa-kenapa nih la? Aku ngerasa ngecewain”, aku benar-benar
merasa gagal.
“oh
jadi kamu yang bikin hujan turun di tengah laut itu?”, tatap lala sinis. Lalu
ketawa.
“Santai
lah dev, apa-apa yang terjadi di alam bukan kuasa kita. “
“kalau
hal seperti ini menimpa kita, ga ada yang bisa kita lakukan selain bersabar,
nikmatin aja proses nya. Sampai hujan ditengah laut itu reda. Dan kalaupun
enggak reda, kita masih bisa mancing di
lain hari”
“aku
yakin banget ada hal baik yang Allah rencanain buat kita dibalik enggak bisanya
kita melaut hari ini”
Aku
memandang lala dengan takjub
Lalu
kupalingkan pandanganku ke tengah lautan itu.
“kamu
kok gak sedih sih ngeliat laut?” aku beranikan bertanya tanpa memandang wajah
lala.
Disudut
mataku bisa kulihat lala menaruh kelapa miliknya di atas meja. Menggenggamkan
kedua tangannya dan menaruhnya diantara kedua kakinya.
“karna
papa aku?” tanyanya tersenyum.
Ayah
lala seorang pelaut. Seorang kapten kapal ekspedisi. hobi memancing dan
menyukai apapun soal laut. Suatu hari, di hari yang amat cerah, di saat yang
kau pikir sangat damai itu, kapal kecil yang digunakan pak johan untuk
memancing tergulung di pertemuan arus samudra. Entah apa yang terjadi, yang
pasti semua penumpang ditemukan tenggelam.
Kalau
aku adalah lala.
Mungkin
aku tidak akan suka pada lautan.
Lalu
mengapa ia?
Lala
berbicara lagi setelah sejenak terdiam, “ Cuma karna lara, lupa dengan bahagia
yang pernah ada. Itu namanya tidak bersyukur”
“dan
papa..”, katanya terbata
“tak
pernah ajarkanku begitu”
Kutarik
kembali pandanganku ke arahnya.
Lagi.
Aku mencoba menangkap raut kecewa. Namun tetap tak ada.
“papa
suka banget sama laut, sampai perginya juga karena dan di lautan”
“aku
gak bisa membenci itu”
“karena
itu sudah jadi ketetapan. Dan aku udah ikhlas”
“kamu
tau dev?, dulu setiap papa punya waktu sebelum berangkat ekspedisi, kami punya ritual naik ke atap rumah”
Aku
tau.
Dan
kupilih diam untuk mendengarkan langsung dari lala.
“waktu
itu aku sering sakit-sakitan, karnanya aku gak bisa bebas main seperti
anak-anak lain. padahal aku ingin banget bisa main hujan, bisa makan es, atau
seenggaknya tidur nyenyak dimalam hari”, lala melemparkan pandangannya padaku.
Lalu tersenyum.
“karena
aku terus-terusan murung, papa punya ide ngajak aku berjemur di atap. katanya
sinar matahari bisa membunuh bakteri penyebab flu”
“walau
aku tau flu ku itu gak serta merta sembuh karena berjemur doang, tapi entah
kenapa aku menemukan kalau itu telah menjadi sesuatu yang penting. Karna
disaat-saat itulah aku melakukan banyak hal seru dengan ayah yang jarang ada di
rumah”
“dan
mulai saat itu aku mulai mencintai sinar mentari”
“aku
juga, sama halnya dengan mentari. Ingin menghadirkan manfaat dan kebahagiaan
bagi orang-orang disekitarku”
aku
tak pernah tau.
Lala
yang biasanya terlihat tidak peduli.
Lala
yang suka melakukan hal-hal konyol tentang kesukaannya itu.
Ternyata
adalah pribadi yang dewasa.
“keren
la”, itulah satu-satunya kalimat yang bisa aku katakan.
“iyakan?
Iyakan? Haahha”, lala mengeluarkan ekspresi menyebalkan.
“aku
juga kepingin hot kayak sinar mentari deh dev”, lala kembali ke frekuensi orang
aneh
“cocok
deh kayaknya aku jadi girlband”, lala meliuk-liukkan tangan mengikuti gerak
tarian girlband abal-abal.
Aku
tertawa terpingkal-pingkal.
Tanpa
kami sadari sinar matahari menerpa kaki-kaki kami yang berlumuran pasir.
Seorang
bapak tua melambai dari kejauhan. Menunjuk-nunjuk ke arah lautan sambil
tertawa.
Cuca
telah kembali cerah.
Lautan
pun sudah tenang.
Aku
melihat ke arah lala dan dia langsung
mengerti.
“yuk”
Akhirnya
di hari itu kami bisa pergi memancing.
Di
bawah sinar mentari yang hangat.
Kebahagiaan
menyeruak di dadaku.
Dan
aku.
mulai
mencintai seorang gadis yang mencintai mentari.
Si
gadis musim panas.

Komentar
Posting Komentar